Sering Batuk Pilek? Cek Lagi Kondisi Udara Tempat Tinggal

Photo courtesy of Shutterstock

KOMPAS.com – Hidung terasa basah ketika sedang berada di tempat tinggal. Kadang kondisinya disertai batuk-batuk. Situasinya bahkan bisa menjadi-jadi pada anak-anak, atau istri yang sedang hamil, atau juga orangtua yang sudah berusia lanjut.

Ironis mungkin jadinya. Sebab, bukankah saat itu kita sedang berada di rumah, tempat yang dianggap jadi perlindungan dari segala rupa penyakit?

Namun ajaibnya, hidung basah dan tenggorokan gatal ingin batuk tadi justru hilang ketika kita atau masing-masing dari mereka berada di tempat lain di luar rumah.

Alergi. Begitu kira-kira kesimpulannya. Kondisi ini pun akan menggugah logika, alih-alih rasa curiga, pada kondisi tempat tinggal.

Sebab, meski namanya “tempat tinggal”, mungkin justru tempat itu sering “ditinggal” karena banyaknya urusan di luar sana. Pergi pagi. Pulang malam. Begitu terus setiap saat. Efeknya, ruangan-ruangan jadi lembab.

Kabut di Jakarta

Kurang bersihnya tempat tinggal juga bisa menjadi penyebab. Sepatu-sepatu keluar-masuk membawa kotoran ke dalam. Terlebih lagi, debu bertebaran di lingkungan, apalagi jika kita tinggal di pusat kota, tempat yang di sisi lain menjadi pilihan ideal karena tidak perlu makan waktu saat ke kantor atau tempat usaha.

Di sinilah kadang kita lupa. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa enggan berurusan dengan debu kota, maka sebaiknya kita menutup rapat hunian dan hidup bergantung pada dinginnya AC.

Padahal, menutup rapat ruangan sama artinya membuat segala yang masuk lalu terjebak di dalamnya. Ini tentu saja termasuk partikel-partikel debu yang membawa makhluk berukuran kecil bernama tungau.

Jika kita bicara ukuran partikel yang beterbangan di udara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggunakan standar ukuran 10 mikron (PM10), dan yang lebih kecil lagi PM2.5 atau seukuran sepertiga puluh dari sehelai rambut.

Tungau sendiri termasuk di dalam partikel-partikel seukuran itu. Mereka hidup di tempat-tempat lembab seperti di ruangan yang kerap tertutup tanpa ventilasi tadi.

Lantas karena punya tempat untuk hidup, mereka pun melepaskan kotoran. Di sinilah persoalannya.

“Tungau sendiri tidak membawa penyakit. Namun, enzim dalam kotoran tungaulah yang membawa penyakit,” kata The Hygiene Doctor, Lisa Ackerley, dikutip Kompas.com.

Kotoran makhluk itu membuat kita terkena alergi gatal kulit, bersin-bersin, mata gatal dan berair, hingga sakit tenggorokan, termasuk memperburuk asma.

Efeknya bisa lebih terasa pada ibu hamil karena sistem kekebalan tubuhnya sedang menurun, demikian halnya dengan mereka yang berusia lanjut karena jaringan di tubuhnya sudah kurang produktif untuk membangun sistem kekebalan tubuh.

Tak ubahnya juga pada anak-anak. Sebab, menurut WHO dalam “Children’s Environmental Health”, anak-anak sedang masa pertumbuhan. Mereka akan menghirup udara lebih banyak—juga makan dan minum lebih banyak—jika bicara rasio bobot, dibandingkan dengan orang dewasa. Makin banyak udara kotor tentu makin berefek pada sistem pernapasan mereka.

Photo courtesy of Verde Two

Di sisi lain, sistem kekebalan mereka juga masih berkembang sehingga butuh penyesuaian. Selain itu, mereka masih belum paham dan waspada pada debu dan kotoran.

Terlebih lagi, tubuhnya yang kecil, bahkan masih belajar merangkak, sehingga sering lebih dekat dengan lantai dan sudut-sudut kotor, termasuk area yang merupakan sarang tungau.

Gambaran di atas tentu membuat kita berpikir, lalu apa yang seharusnya dilakukan? Setidaknya, menepis anggapan bahwa lebih aman tinggal di ruangan tertutup adalah langkah pertama untuk mengubah pola pikir. Di sini, sirkulasi udara adalah hal penting.

Langkah selanjutnya adalah rajin membersihkan segala sudut ruangan supaya tempat tinggal tidak menjadi sarang tungau.

Air purifier di dalam ruangan juga bisa digunakan untuk menyaring udara. Namun, jika ruangan tertutup rapat, maka udara yang diputar tentu akan yang itu-itu saja.

Pilihan lainnya adalah tinggal dengan sistem sirkulasi udara murni yang disuntikkan ke dalam hunian, seperti di apartemen premium Verde Two, tepatnya Monteverde Tower, di kawasan Kuningan Central Business District.

Photo courtesy of Verde Two

Udara murni di hunian apartemen tersebut disalurkan melalui filter-filter yang bisa menghalau partikel berukuran hingga sekecil PM2.5. Sebaliknya, udara yang ada di dalam hunian disalurkan keluar sehingga tercipta sirkulasi yang dibarengi dengan embusan AC untuk mendinginkan ataupun menurunkan suhu ruangan.

Penekanan bahwa sirkulasi udara memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan di tempat tinggal sendiri sudah kerap kali ditekankan oleh WHO.

“Memastikan udara bersih di dalam dan di sekitar rumah merupakan hal penting untuk mengurangi beban penyakit yang diakibatkan polusi udara,” ujar Dr Maria Neira dalam rilis “WHO Sets Benchmarks to Reduce Health Damage from Indoor Air Pollution”.

Tentu pada hakikatnya kembali lagi pada cita-cita terhadap sebuah tempat tinggal. Bukankah selain sebagai investasi, tempat tinggal juga seharusnya memberikan rasa nyaman, menjadi tempat untuk hidup bahagia bersama semua anggota keluarga, hingga melihat anak-anak berkembang dan tumbuh sehat?

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Sering Batuk Pilek? Cek Lagi Kondisi Udara Tempat Tinggal”, https://properti.kompas.com/read/2018/07/19/083000321/sering-batuk-pilek-cek-lagi-kondisi-udara-tempat-tinggal.
Penulis : Dimas Wahyu
Editor : Dimas Wahyu